-Antara Fajar Dan Senja-
Kini Ia sudah bukan lagi seorang remaja labil yang seenaknya dalam bertindak. Kini semua perbuatannya perlu pertimbangan yang matang dan tanggung jawab yang besar. Sudah cukup menyiksa hukuman yang Ia terima saat ini. Dhio tak masalah jika harus terus bergelut dengan ARV (Antiretroviral – obat untuk menghambat pertumbuhan virus HIV) dan secara rutin berkunjung ke rumah sakit untuk check up. Ia tak masalah dengan orang-orang yang memandang aneh kepadanya. Namun, tidak untuk yang satu ini.
Dhio menopang kepalanya yang terasa berat dengan kedua tangannya dan terduduk di lantai kamar yang dingin. Dadanya sesak mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Senja, anak perempuan semata wayangnya bahkan tak sudi untuk memandangnya. Apalagi untuk memanggilnya dengan sebutan “Ayah”.
Senja lagi-lagi pulang dalam keadaan menangis. Dhio sedang duduk di ruang tamu saat anaknya pulang. Tanpa menyapa, Senja bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ketika Dhio mencoba mengejar, pintu kamar itu ditutup secara paksa dari dalam, hingga menimbulkan suara yang nyaring. Dhio terdiam mematung di depan pintu kamar itu. Tak lama, sentuhan lembut memeluk dirinya.
Fira memeluk suaminya dengan erat, berusaha menguatkan laki-laki tersayangnya. Sebenarnya, kantung matanya pun tak tahan lagi menahan air mata yang melesak keluar. Tetapi sekarang Ia tak boleh mangis, “Aku harus kuat!” katanya dalam hati karena Ia harus menguatkan hati suaminya yang terlihat kuat namun sebenarnya sangatlah rapuh. Perlahan Fira menuntun Dhio untuk menenangkan diri di dalam ruangannya.
Setelah mengantar secangkir teh hangat untuk Dhio, Fira menghampiri kamar anak perempuannya sambil membawa sekotak biskuit dan segelas susu hangat. Ketika Ia hendak membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu, Ia mendengar isakan kecil. Fira berhenti sejenak untuk sekedar menata hatinya.
“Senja...” Fira meletakkan nampan yang Ia bawa di atas nakas, kemudian mengusap lembut gundukan selimut yang menutupi tubuh anaknya.
“Senja... Kenapa menangis, Nak?” Senja bangun dari baringannya dan segera memeluk erat tubuh Sang Ibu. Fira bisa merasakan pundaknya basah oleh air mata anaknya. Ia paham betul, apa yang dirasakan anaknya.
Dhio, suaminya adalah seorang ODHA (Orang yang memiliki HIV/AIDS). Untuk memilih Dhio sebagai pasangan hidupnya, merupakan sebuah keputusan besar penuh konsekuensi dan tanggung jawab sepanjang hidup Fira. Sedangkan Senja, adalah anugrah terindah dari-Nya atas rasa cintanya yang tak ternilai untuk Dhio. Fira bahkan dengan sabar dan telaten merawat Dhio, bersama menjalani rangkaian proses medis supaya tubuhnya tetap terjaga bersih, negatif dari jangkauan virus HIV.
Fira tahu, Senja di usianya yang menginjak 17 tahun, tidak mudah bagi dirinya untuk bisa mengerti dan memahami bahwa ayahnya adalah seorang ODHA, tererlebih di tengah kerasnya pandangan masyarakat. Fira tahu, bahwa anak tersayangnya ini kerap kali juga mendapat perlakuan diskriminatif dari teman-temannya yang mengetahui keadaan ayahnya. Karena itu lah, Senja membenci ayahnya. Ia takut, akan cap yang diberikan pada dirinya sebagai anak dari seorang ODHA oleh masyarakat. Walaupun secara fisik, Senja pun negatif dari jangkauan virus HIV.
Fira mengusap lembut rambut anaknya yang masih bersandar, memeluknya dengan erat.
“Senja..” Fira berkata dengan lembut, “Senja sayang sama ibu, kan?” Fira bisa merasakan anaknya mengangguk pelan.
“Ibu sayaaang sekali sama Senja.” Fira semakin melembutkan usapannya.
“Ayah juga. Ayah sayaaang sekali sama Senja. Senja ngga kangen sama Ayah?”
Tangis Senja pun semakin menjadi saat mendengar penuturan lembut ibu tersayangnya itu. Fira pun memeluk anaknya semakin erat, menyalurkan kehangatannya.
---
Hari Senin, entah mengapa menjadi momok tersendiri bagi para siswa di sekolah, termasuk Senja. Senja merasa hari Senin adalah hari dimulainya waktu-waktu membosankan hingga empat hari ke depan. Senja bukannya malas untuk pergi ke sekolah, Ia hanya malas untuk bertemu teman-teman yang terlalu sibuk mengurusi kehidupannya. Ia tak habis pikir, sebanyak itukah waktu luang mereka untuk mencampuri urusan hidupnya?
“Woyy!!” Senja terperanjat, kaget saat seseorang menepuk pundaknya dengan keras.
“Fajar.” Batin Senja. Senja terkesiap dan menatap bingung.
“Heum??”
“Ngapain sih bengong di depan gerbang?” Tanya Fajar. Senja merengut kesal sambil meremas-remas tali tasnya. Fajar tersenyum melihatnya, Ia tahu alasan di balik kekesalan sahabatnya. Sepertinya itu memang sudah menjadi kebiasaan Senja.
“Ngapain kamu pake masker?” Senja menatap bingung.
“Ngga papa, siapa tahu..aku tambah ganteng kalo pake masker. Iya ngga?” Fajar mengedipkan matanya jahil.
“Yuk masuk! Keburu bel nanti..” Fajar menarik tangan Senja, mengajaknya berlari menuju kelas mereka.
Sebenarnya Senja bukanlah anak yang pendiam dan tak pandai bergaul. Senja memilih untuk membatasi diri sendiri dari teman-temannya. Senja khawatir mereka akan menjauh jika mengetahui keadaannya. Sejauh ini hanya satu orang yang mampu berteman baik dengan Senja. Siapa lagi jika bukan Fajar.
Sejak pertama kali mereka bertemu setelah libur panjang kenaikan kelas, Fajar menyadari seseorang berdiri di sampingnya yang juga sedang menelusuri papan pengumumam pembagian kelas. Fajar pergi terlebih dahulu saat itu dan ternyata Senja pun berjalan ke arah yang sama setelahnya, mereka satu kelas. Sejak itulah, Fajar selalu memperhatikan Senja. Ia tahu, Senja membatasi dirinya untuk berteman, tetapi tak tahu apa alasan Senja melakukan itu.
Hingga suatu hari, Fajar memergoki sekumpulan siswa perempuan tengah bertengkar di rooftop sekolah. Salah satu dari siswa itu adalah Senja yang merupakan korbannya. Senja yang saat itu sudah tak tahan, mencoba untuk memberontak dan memukul seorang siswa perempuan yang menjambak rambutnya. Seorang lainnya yang melihat temannya dipukul oleh Senja pun tidak tinggal diam. Ia mencakar pipi Senja hingga meninggalkan guratan merah yang mengeluarkan darah. Fajar berlari mendekat dan menarik Senja untuk berlindung di belakangnya.
“Bubar sekarang atau aku laporin BK!” Fajar menekankan pada tiap katanya dan menatap mereka dengan tegas.
“Hah! Berlagak jadi pahlawan. Apa untungnya sih ngejar cewek virus kayak dia!?”
Tak lama setelah mereka pergi, Fajar menarik tangan Senja menuju UKS, tetapi Senja menghempaskan tangannya.
“Aaaaaaa!!! Apa untungnya jadi pahlawan anak seorang ODHA!!! Pergi kamu! Pergii!!!”
Fajar terkesiap mendengar perkataan Senja. Senja pun tak sadar dengan apa yang Ia katakan. Fajar tak mampu membiarkan begitu saja apa yang didengarnya. Ia merasa perlu tahu tentang hal itu dan penting baginya untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mengobati luka di pipi Senja dan beberapa lebam di tangannya, Fajar dengan perlahan mulai memberikan beberapa pertanyaan tentang maksud perkataan Senja tadi. Pembawaan Fajar yang tenang mampu memberikan ketenangan juga pada Senja, hingga Senja mau menceritakan apa yang dia alami tanpa merasa terancam. Akhirnya Fajar pun mengetahui semuanya, bahkan tentang Senja yang membenci kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang ODHA.
---
Senja menghembuskan nafas beratnya yang kesekian kali. Sudah hampir dua bulan ini Fajar mengambil cuti dari sekolah. Senja bahkan sudah mencari informasi dari wali kelasnya, tetapi saat Ia menanyakan alasan Fajar mengambil cuti, wali kelasnya bahkan tidak mau mengatakannya. Senja ingin mengunjungi Fajar, tetapi yang Ia tahu hanya Fajar yang tinggal di sebuah yayasan yatim piatu, tanpa tahu alamat dan nama yayasan itu. Jujur saja, Senja merindukan sahabatnya itu. Ada perasaan yang berbeda ketika Ia bersama Fajar.
Senja merasa hari ini sangat membosankan dari hari-hari biasanya. Ia melangkah gontai keluar dari gerbang sekolah. Baru beberapa langkah keluar dari area sekolah, seorang wanita paruh baya memanggilnya. Senja menoleh dan melihat wanita itu bergegas mendekatinya. Begitu sampai di hadapannya, tanpa mengatakan apapun wanita itu menyerahkan sebuah bingkisan berbentuk kotak dengan hiasan pita merah di tengahnya.
“Terima kasih, sudah menambah semangat hidupnya.” Wanita itu tersenyum lembut sambil mengusap kepala Senja. Setelah mengatakan itu, wanita itu bergegas berjalan pergi. Senja semakin bingung dibuatnya.
Senja meletakkan tas sekolahnya begitu saja tergelatak di meja ruang tamu dan sepatunya yang berserakan di depan pintu. Di ruang tamu, Ia segera membuka kotak bingkisan itu. Bingkisan itu berisi sebuah kotak berukuran lebih kecil yang dibungkus kertas berwarna merah dan sebuah amplop surat berwarna coklat. Senja memilih untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
“Hai Senja...
Kalau kamu sekarang sedang membaca surat ini, berarti kamu sudah bertemu dengan Bibi Yuna. Dia adalah pemilik Yayasan Bunga Matahari, panti asuhan tempat aku tinggal selama ini. Aku sangat berterima kasih padanya sudah merawatku selama ini. Titip salam ya, kalau kamu bertemu dengannya lagi.
Senja..Aku ingin menceritakan sebuah kisah..
Dulu, di sebuah perumahan di pinggiran kota, hidup seorang perempuan cantik. Namun sayang, hidupnya sepertinya kurang beruntung. Ia tinggal sendirian karena kedua orang tuanya sudah tiada. Terlebih kedua orang tuanya bukan termasuk orang yang berkecukupan sehingga Ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.
Singkat cerita, Ia melamar pekerjaan di sebuah cafe. Karena latar belakang keluarga dan pendidikannya yang rendah, Ia hanya diberi pekerjaan mencuci piring, membersihkan cafe tersebut sebelum cafe itu buka dan setelah cafe itu tutup. Suatu ketika, bos dari cafe tersebut berkata bahwa Ia akan diberi kenaikan jabatan dan gaji yang besar karena kerjanya yang begitu giat. Namun sepertinya, lagi-lagi ini bukan keberuntungannya. Ia berkahir di sebuah ruangan gelap tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Bos cafenya memperdagangkan dirinya pada pengusaha muda demi mendapatkan uang lebih untuk memperbesar usahanya. Walaupun akhirnya Ia bisa bebas dari itu semua, setelah diketahui bahwa dirinya hamil. Pengusaha muda itu menelantarkannya.
Perempuan itu kembali kerumahnya dengan keadaan kacau. Beberapa hari setalahnya, dengan tekanan batin yang besar Ia memberanikan dirinya untuk pergi ke Rumah Sakit demi mengecek kesehatannya. Bayi yang dikandungnya sudah berusia 3 minggu. Ia bahagia mengetahui Ia tengah mengandung, namun juga rasa takut dan khawatir menghantuinya. Hingga kenyataan, menamparnya untuk yang kesekian kalinya. Ia terkena virus HIV dan itu mengancam bayi yang ada di kandungannya.
Singkat cerita, perempuan itu menjalani hidupnya dengan penuh tekanan hingga bayi yang di kandungnya lahir. Seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi menghadapi kejamnya kehidupan. Bayi itu juga terkena virus HIV. Karena takut dan khawatir begitu menghantuinya, perempuan itu memilih untuk menitipkan bayinya pada seorang sahabat dekatnya yang merupakan pemilik dari yayasan yatim piatu ini. Seperti kata Bibi Yuna, sebuah kertas terselip di dalam selimut bayi itu, bertuliskan ‘Namanya Fajar, karena Ia lahir saat fajar tengah menyingsing. Terima kasih’. Akhirnya, perempuan itu memilih untuk mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah.
Kamu tahu, Senja? Aku tidak bisa membeci ibuku, karena aku tahu ini bukan keinginannya. Jika Ia bisa memilih, aku tahu pasti Ia akan memilih kehidupan yang lebih baik dari ini. Aku memikirkan bagaimana seorang perempuan yang tengah megandung terlebih Ia merupakan seorang ODHA mampu hidup ditengah kejamnya pandangan sosial. Hingga akhirnya bayi yang dikandungnya lahir, seberapa besar tekanan batin yang Ia rasakan.
Aku sangat bersyukur mampu hidup selama 17 tahun ini. Padahal, aku bisa saja tak selamat ketika aku dilahirkan. Ataupun aku hanya bisa hidup beberapa tahun saja. Apa kamu bisa membayangkan, Senja? Ketika kamu tahu bahwa waktu hidupmu tidak lama lagi, bahkan sejak lahir kamu sudah diberi tahu bahwa hidupmu tak akan lama. Ketika aku sudah mampu berpikir dan mengerti hidup, hanya satu yang aku pikirkan, yaitu apa yang benar-benar ingin aku capai dan ingin aku lakukan selama aku hidup.
Aku sudah dituntut untuk menentukan tujuan hidupku sejak kecil, karena aku tahu hidupku tidak akan lama. Aku tak punya waktu untuk memikirkan teman-teman yang mengejekku ataupun pandangan orang-orang disekitarku. Mereka bahkan tidak tahu apa yang aku alami. Aku mungkin bisa saja hidup lebih lama dari ini. Namum HIV bukan virus biasa, pengobatan HIV itu jangka panjang dan berkelanjutan. Kalau telat sekali saja tidak meminum obat, maka semuanya bisa kembali dari awal lagi dan itu pun sifatnya hanya menghambat saja, bukan menyembuhkan. Bibi Yuna tidak mempunyai banyak pendapatan untuk bisa mengobatiku dan aku tidak mungkin tega membebankan ini semua kepadanya.
Sebenarnya, aku sudah hidup lebih dari prediksi yang diperkirakan dokter. Karena beberapa bulan terakhir ini, aku merasa masih ada yang harus aku selesaikan sebelum aku pergi. Sehingga aku berdoa lebih giat, supaya aku diberi waktu lebih lama untuk bisa mengatakan ini padamu. Namun sepetinya, aku tetap tidak bisa mengatakannya secara langsung.
Senja... Aku menyayangimu. Terima kasih sudah menjadi tujuan hidupku yang terakhir. Aku senang mengenalmu, sehingga aku bisa merasakan masa-masa remaja yang membahagiakan. Terima kasih kembali kalau kamu juga menyayangiku. Namun, ada satu yang aku ingin kamu paham.
Rasa sayangku ini tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh orangtuamu, terlebih Ayahmu. Aku meminta tolong padamu, sebagai permintaan terakhirku. Berdamailah dengan kenyataan dan kembalilah pada dekapannya. Karena jika Ayahmu bisa memilih, maka Ia akan memilih kehidupan yang lebih baik dari ini dan tidak akan membiarkan anak perempuannya tersakiti.
Tertanda, Fajar...”
Senja tak mampu lagi menahan air matanya yang entah sejak kapan turun begitu deras. Ia mendekap kertas surat tersebut dengan erat. Matanya menangkap sebuah kotak yang belum Ia buka. Ketika dibuka, bingkisan itu berisi dua buah buku berjudul “Apa itu HIV/AIDS” dan “Mari Mengenal ODHA”. Air matanya semakin tak terbendung. Senja menatap kamar kedua orang tuanya dan mendapati Fira yang memperhatikannya sedari tadi. Fira mendekati anak perempuannya, memeluknya sambil mengambil surat itu dan membacanya. Senja menangis sesenggukan didekapan ibunya.
Selesai membaca surat tersebut Fira berkata, “Kamu tahu, kenapa kamu diberi nama ‘Senja’? Karena kamu lahir saat pergantian siang dan malam, saat senja datang. Ayahmu yang memberikan nama itu. Saat itu, Ia bahagia sekali karena mendapatkan anugrah seorang bayi perempuan yang cantik dan lucu. Bukan hanya itu, Ia juga bahagia karena Ia berhasil. Berhasil menjaga kamu dan ibu tetap negatif dari jangkauan virus HIV”.
Tiba-tiba, pintu rumah mereka terbuka dan seseorang masuk sambil mengucap salam. Dhio telah selesai dengan pekerjaannya. Senja yang mendengar suara ayahnya, segera berpaling dan memeluk ayahnya dengan erat. “Ayah..” Senja mengucapkannya sambil berbisik, tetapi Dhio masih bisa mendengarnya.
Dhio merasa semua beban yang Ia pikul di pundaknya runtuh begitu saja dan Ia membalas memeluk anaknya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Fira pun mendekati dua orang tersayangnya itu, ikut masuk dalam hangatnya dekapan sebuah keluarga.
---
Akhir pekan, Senja ditemani kedua orang tuanya menyempatkan diri untuk mengunjungi Yayasan Bunga Matahari milik Bibi Yuna sambil menjenguk tempat Fajar tertidur untuk waktu yang abadi. Senja tak berhenti menatap batu nisan yang ada di depannya. Ia berjongkok di samping batu nisan itu.
“Terima kasih, kamu udah ngelakuin yang terbaik dalam hidup kamu. Aku juga menyayangimu.” Senja meletakkan seikat bunga matahari dengan pita merah sebagai hiasannya.
Orang terakhir yang meninggalkan nisan Fajar adalah Dhio. Ia mengakatan bahwa Ia masih ingin mendoakan Fajar sekali lagi. Setelah semuanya kembali ke yayasan, giliran Dhio yang berjongkok di samping nisan Fajar. Ia mengusap lembut nisan itu dan memandangnya dengan penuh arti.
“Terima kasih, aku mengerti keadaanmu. Maafkan aku, kamu sudah bebas dari ini semua. Terima kasih, sudah menyayangi Senja. Maafkan aku. Kini tinggal aku yang menjalankan tujuan hidupku selanjutnya. Terima kasih. Semoga kamu bahagia di sana, Anakku...”
Yogyakarta, 30 November 2019
El Syifa Putri Widianto