Thursday, July 6, 2023

Tentang Venus, Untukmu...

Malam ini insomnia kembali menemani malamku setelah kecemasan menghampiriku beberapa saat yang lalu. Seperti biasa, Aku mencari sesuatu untuk mengalihkan pikiranku. Dan ternyata larutnya dini hari tak menghentikan imajinasiku untuk terus berkelana.


Tiba-tiba, Aku ingin bercerita tentang Venus. Setitik pemikiran dan perasaan yang sudah lama Ada, namun belum sempat tertuliskan. Jadi, Aku gunakan kesempatan ini untuk merangkai kata demi kata.


Kamu boleh melanjutkan jika penasaran dengan isi pikiranku, kamu juga tidak dilarang untuk berhenti di sini dan melanjutkan aktivitas apapun yang sedang kamu kerjakan. Atau kamu bisa simpan ini untuk nanti saat kamu memiliki waktu luang lebih banyak. 


Apa kamu tahu lagu anak yang judulnya "Bintang Kejora"? Begini liriknya...


(Kupandang langit

Penuh bintang bertaburan

Berkelap-kelip seumpama intan berlian

Tampak sebuah lebih terang cahayanya

Itulah bintangku, bintang kejora yang indah selalu)


Venus, Si Bintang Kejora, planet nomor dua di galaksi Milky Way, planet yang selalu ada di sisi matahari baik terbit maupun terbenam. Aku selalu suka Venus, sejak pertama kali aku menghafal nama-nama planet di TK.


Venus, planet kembaran Bumi yang sebenarnya tidak kembar karena arah rotasi Venus berkebalikan arah rotasi Bumi. Apakah kamu termasuk orang yang suka membaca kisah mitologi Yunani? Kalau iya, kamu pasti kenal "Aphrodite". Ya! Aphrodite si Dewa Cinta dan Kecantikan. Aphrodite adalah nama lain dari Venus di mitologi Yunani.



Aku tahu satu lagu yang mendeskripsikan Venus sebagai simbol Cinta dengan sangat indah. Kalau kamu viewer setia status-statusku dan jeli👀 (bukan jeli🍮), kmu pasti "ngeh" sama lagu ini, Venus by Sleeping At Last.


Sebelum lanjut, boleh dengerin dulu lagunya.


Udah? Okay, kita intip lirik dan terjemahnya, ya:


The night sky once ruled my imagination

(Saat itu, langit malam menguasai imajinasiku)

Now I turn the dials with careful calculation

(Ku buat panggilan dan ku hitung dengan cermat)

After a while, I thought I'd never find you

(setelah beberapa saat, Aku pikir aku tak akan pernah menemukanmu)

I convinced myself that I would never find you

(Aku meyakinkan diri bahwa aku tak akan pernah menemukanmu)

When suddenly, I saw you

(Saat tiba-tiba, Aku melihatmu)


At first, I thought you were a constellation

(Awalnya, Aku pikir kau sebuah konstelasi)

I made a map of your stars, then I had a revelation

(Ku buka peta bintangku, dan aku mengerti)

You're as beautiful as endless

(Kau begitu indah tak terbatas)

You're the universe I'm helpless in

(Kau adalah semesta tempat aku tak berdaya)

An astronomer at my best

(Layaknya seorang astronom terbaik)

When I throw away the measurements

(Yang kehilangan seluruh perhitungannya)


Like a telescope

(Seperti teleskop)

I will pull you so close

(Akan ku rengkuh dirimu begitu dekat)

'Til no space lies in between

(Sampai tak ada jarak Di antara Kita)

Suddenly, I see you

(Saat tiba-tiba, Aku melihatmu)


I was a billion little pieces

(Aku adalah miliaran keping kecil di angkasa)

'Til you pulled me into focus

(Sampai kau menarikku dalam satu titik fokus)

Astronomy in reverse

(Astronomi berkebalikan)

It was me who was discovered

(Akulah yang ditemukan)

When, Suddenly I see you

(Saat tiba-tiba, Aku melihatmu)


Venus adalah salah satu lagu dalam album Atlas II: Astronomy karya Sleeping At Last. Ryan, penulis sekaligus penyayi lagu Venus menuliskan dalam blognya:

"Venus terinspirasi dari nama dewa cinta, karena itu aku menulis lagu cinta. Lagu ini dinyanyikan dalam perspektif diriku sebagai seorang astronom. Aku menulis lagu ini untuk istriku."


Indah sekali maknanya, itulah kesan pertamaku saat mendengar lagu ini pertama kali.


Pertama aku dengar lagu ini waktu aku SMP, dan sejak saat itu aku jatuh cinta (sama lagu ini maksudnya). Saat itu aku di kamar, earphone di telinga tersambung ke smartphone, tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Seketika imajinasi berputar layaknya sebuah film.


Aku membayangkan diriku bagai serpihan debu kosmik yang pada saat itu belum diketahui apa julukannya. Melayang-layang di angkasa luas tak tentu arah, hingga sebuah kekuatan besar ajaib menarikku pada satu titik, mengajakku untuk mengorbit bersama matahari. Untuk beberapa waktu keberadaanku masih tanpa nama, sampai akhirnya makhluk bumi menamaiku Venus. Akhirnya, Aku pun ditemukan...


Sebagai seorang hopeless romantic, aku selalu bertanya-tanya saat mendengar curhatan temanku, atau married couple yang dengan senang hati menceritakan perjalanannya.

Gimana sih caranya buat yakin kalo dia itu "the one"?

Gimana sih rasanya akhirnya menemukan or ketemu sama "the one person" yg bakal hidup bareng sama kamu?

Saat garis hidup kamu ketemu di satu titik yang sama dengan garis hidupnya, kamu lebih merasa "Akhirnya aku menemukan dia" atau "Akhirnya aku ditemukan oleh dia"?


Aku tahu dan sadar, bahwa ketika membahas real love story kadang tidak seindah kisah Habibie-Ainun, Webtoon, atau AU di Twitter. It's all about fact and reality...


Tapi tetap saja, membayangkan perasaan "finally, I found the one" itu tetap wah rasanya. Well, suatu saat aku juga pasti akan paham jawaban dari pertanyaanku sendiri.


So, dari lagu ini Aku belajar bahwa "Love" memiliki banyak bentuk dan definisi tergantung dari siapa, serta dari perspektif mana dia mendefinisikanya. Contohnya di lagu ini seorang astronom, kecintaanya terhadap luar angkasa membuat Ia mendefinisikannya sebagai perihal menemukan dan ditemukan, dan Venus. Jika Ia seorang pecinta kucing, bisa jadi bentuk cinta itu ketika Ia bisa memberi makan Royal Canin atau minimal Whiskas setiap hari untuk anabulnya.


Kalau Aku... Aku mendefinisikannya sebagai sesuatu yang tak terbatas mendekati cannot be defined (tidak dapat didefinisikan), karena aku selalu kekurangan kata-kata untuk mendefinisikannya. Tak terbatas sebagaimana Aku mencintai Sang Pencipta, mencintai orangtuaku, mencintai kawan-kawanku, mencintai imajinasiku, mencintai ice cream, hujan, astronomi, musik, dan masih banyak lagi... And, I love myself too (still trying tho) hehe..


Kalau kamu, bagaimana kamu mendefinisikan "Love"?


Side Story:

"Beautiful In White by Westlife", "Fix You by Coldplay", atau "Love Story by Taylor Swift" mungkin masih jadi peringkat teratas untuk kategori wedding song, tapi buatku "Venus by Sleeping At Last" ter-the best.


Potongan lirik yang Aku suka dari lagu ini, yaitu:

"You're beautiful as endless, You are the universe I'm helpless in"

(Kau indah tak terbatas, Kau adalah semesta tempat aku tak berdaya)


Kalimat itu bikin Aku ingat sama quotes:

"You hold the whole universe within your eyes"

(Kau menggenggam seluruh alam semesta di dalam matamu)


Btw, Aku masih punya wishlist untuk stargazing, dan pada saat itu aku ngga akan sendirian. Akan ada yang nemenin. Aku ngga tau siapa yang bakal nemenin wkwk dan Aku akan putar lagu ini buat dia dengerin juga. I just want him to know that "I am glad that finally I found you, and I feel relieved that you found me in this universe." 


Hahahaha gilaaaaaa, apaan deh wkwkw, liat aja ujung-ujungnya juga pasti ngehaluin idol koreah, kalo ngga Mark, ya Seungmin, atau Lino, atau Bangchan juga boleh 🤣


Selamat hari kamis manis everyone~


Reference:

https://www.sleepingatlast.com/blog/space-1-song-notes

https://www.getty.edu/art/exhibitions/aphrodite/venus.html#:~:text=Like%20her%20Greek%20counterpart%20Aphrodite,allied%20themselves%20with%20the%20de

https://solarsystem.nasa.gov/planets/venus/in-depth/

Thursday, August 6, 2020

Apakah Ada Bedanya?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apa kabar gaes? Selamat datang kembali pembaca setia wkwk. Selamat datang juga buat pembaca yang baru pertama kali membaca tulisanku di blog ini. As always enjoy and happy reading!!!

Pada postingan kali ini, saya akan sedikit mengulas sebuah lirik lagu karya Ebiet G. Ade. Sebelum masuk ke pembahasan, pasti sudah banyak dari kalian yang mengetahui tentang Ebiet ini, kan? Ebiet G. Ade adalah seniman musik Indonesia yang memiliki nama asli Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far. Ebiet lahir pada 21 April 1954 di Wanadadi, Banjarnegara, Jawa Tengah. Ada yang satu kampung? Ehehee...

Kalau teman-teman zaman now mendengar kata “musikalisasi puisi” pasti yang muncul dipikiran kalian itu Fiersa Besari, Banda Neira, Wira Nagara, Rhia Lestari, dan lainnya. Nah, Ebiet G. Ade ini adalah seniman Indonesia yang pertama kali memusikalisasikan puisi, bersama dengan rekannya yaitu Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun.

Kalian pasti tidak asing dengan quotes “Tanya aja sama rumput yang bergoyang”. Yaaa! Quotes itu adalah potongan lirik dari salah satu lagu karya Ebiet yang berjudul “Berita Kepada Kawan” yang populer setelah terjadinya bencana tsunami besar di Indonesia. Nah, di sini saya akan mencoba mengulas salah satu lagu karya Ebiet G. Ade yang berjudul “Apakah Ada Bedanya”. Let’s check this out!


 (Bait 1)

Apakah ada bedanya

Hanya diam menunggu

Dengan memburu bayang-bayang

Sama-sama kosong

Kucoba tuang

Ke dalam kanvas

Dengan garis dan warna-warni

Yang aku rindui

Pertanyaan “Apakah ada bedanya?” adalah sebuah pertanyaan retorika. Pertanyaan ini mengajak kita untuk membandingkan sesuatu hal yang sebenarnya berarti sama. Jika kita hanya diam menunggu tanpa melakukan sesuatu, maka kita tidak akan mendapat apa-apa. Begitu juga dengan memburu bayang-bayang. Apa yang bisa kita harapkan dari sebuah bayang-bayang, jika tidak di wujudkan, akan selalu menjadi bayang-bayang.  Jadi, apa bedanya antara hanya diam menunggu, dengan memburu bayang-bayang? Sama, sama-sama kosong.

Nah, bagaimana supaya kekosongan itu hilang? Kita harus melakukan sesuatu supaya kekosongan itu hilang. Pada bait ini, Ebiet mencoba untuk mengungkapkan perasannya. Ebiet berusaha mengungkapkan perasaanya di atas kanvas, dengan harapan kekosongan itu bisa hilang. Kita tahu bahwa setiap orang mempunyai caranya sendiri dalam mengungkapkan perasaanya. Sebagian orang mungkin bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung. Namun sebagian orang yang lain, mungkin harus dengan cara yang lebih tersembunyi. Bisa dengan kata-kata puitis, syair lagu, sebuah gambar, atau bahkan sandi morse.

Pada intinya, bait ini mengajarkan kepada kita bahwa jika kita memiliki sebuah keinginan, maka wujudkanlah. Wujudkan keinginan kita supaya tidak hanya menjadi angan-angan kosong semata. Begitu juga jika memendam sebuah perasaan dalam hati kita. Entah perasaan apapun yang kita rasakan, akan lebih melegakan jika kita mampu mengekspresikannya.

(Bait 2)

“Apakah ada bedanya

Bila mata terpejam

Pikiran jauh mengembara

Menembus batas langit

Cintamu telah membakar jiwaku

Harum aroma tubuhmu

Menyumbat kepala dan pikiranku

Istilahnya, jika seseorang sudah jatuh cinta, apapun yang ia lakukan dan pikirkan, pasti selalu mengarah pada orang yang dicintai. Seolah poros hidupnya hanya satu, yaitu orang yang dicintainya. Sulit sekali perasaan itu untuk dialihkan. Sudah terlanjur melekat dalam hati dan pikiran. Jadi, apa bedanya? Antara tetap membuka mata dan menutup mata. Menutup mata pun, hanya semakin membuat pikiran kita jauh berkelana, membayangkan orang yang kita cintai. Tidak ada bedanya, perasaan itu akan tetap sama. Mau diapakan juga tidak akan berubah, karena sudah terlanjur menyumbat kepala dan pikiran.

Sekarang, coba kita asumsikan seseorang yang kita cintai itu, adalah sesuatu yang ingin kita capai (cita-cita, keinginan, tujuan hidup) atau apapun itu yang berharga dalam hidup kita. Jika kita sudah benar-benar meletakkannya di depan mata kita, apapun yang kita lakukan pasti hanya untuk mewujudkan itu semua. Sulit sekali untuk melepas keinginan itu, karena sudah terlanjur terpatri di hati dan pikiran kita.

 (Bait 3)

Di bumi yang berputar

Pasti ada gejolak

Ikuti saja iramanya

Isi dengan rasa

Di menara langit

Halilintar bersabung

Aku merasa tak terlindung

Terbakar kegetiran

Ketika kita mencintai seseorang, perasaan itu bergejolak bercampur aduk menjadi satu di dalam dada. Antara senang dan sedih, yakin dan ragu-ragu, dan sebagainya. Jangan menolak perasaan-perasaan itu, ikuti saja iramanya dan isi dengan rasa. Kita harus mencoba untuk memaknai setiap perasaan-perasaan itu.

Bagitu juga di dalam hidup. Kita pasti mengalami banyak hal dalam hidup kita. Bahkan seseorang yang nolep (no life) sekalipun, pasti mengalami gejolak dalam hidupnya. Karena faktanya, glasar-glosor rebahan sana-sini pun melelahkan. Oke lanjuutttt haha :v ... Begitu juga dalam hidup. Kita akan melewati banyak lika-liku kehidupan. Ada waktu, saat kita berada pada puncak tertinggi dalam hidup kita. Namun, ada juga saat dimana kita berada di dalam jurang terdalam di hidup kita. Hal yang harus kita lakukan adalah menghadapi itu semua, jangan lari dari situasi sulit itu. Itulah dinamika kehidupan kita, jadi ikuti saja iramanya. Semua itu semata hanya untuk membuat diri kita semain tangguh.

Kita membuat banyak keputusan dalam hidup kita. Tak dapat dipungkiri, kita pasti pernah ragu-ragu dengan keputusan yang kita ambil. Walaupun sudah sangat yakin, terkadang perasaan ragu-ragu pun masih sering tersirat, walaupun hanya sekelebat perasaan. Begitu juga ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang. Faktor dari dalam diri kita sendiri mungkin sudah yakin, tetapi bisa saja faktor-faktor dari luar yang membuat kita ragu-ragu. Keragu-raguan itulah yang membuat hati kita cemas, berkecamuk seperti halilintar yang bersahutan. Namun, bagaimana pun juga, kita harus tetap membuat keputusan dalam setiap langkah yang kita ambil.

 (Bait 4)

Cinta yang kuberi

Sepenuh hatiku

Entah yang kuterima

Aku tak peduli

Bait ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jika kita mau memaknainya lebih dalam, bait ini mengajarkan kita sebuah nilai kehidupan yang besar. Secara gramatikal, bait ini mengartikan cinta yang tulus pada seorang yang dicintainya. Ebiet memberikan seluruh cintanya sepenuh hati. Entah pada akhirnya diterima atau tidak, ia tidak peduli. Hal yang terpenting adalah ia sudah sungguh-sungguh.

Sekarang, asumsikan cinta itu sebagai sesuatu yang kita korbankan sepenuh hati, untuk mencapai keinginan kita. Terkadang kita harus mengorbankan banyak hal untuk mencapai hal yang lebih berharga dalam hidup kita. Pada saat itulah, kita belajar untuk ikhlas. Jika kita yakin hal itu adalah yang terbaik untuk diri kita, maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan hadapi konsekuensinya. Tidak perlu memikirkan hasilnya terlebih dahulu, lakukan saja prosesnya dengan baik, hasil pasti akan mengikuti sebaik apa prosesnya.

Menurut saya, inilah makna dari “Passion”. Passion itu adalah ketertarikan yang sangat kuat terhadap sesuatu sehingga kita akan melakukannya dengan sepenuh hati, berinisiatif untuk melakukan bahkan tanpa diminta. Beberapa orang mengartikan passion sebagai hobi, tetapi menurut saya itu adalah hal yang berbeda. Hobi bisa menjadi sumber passion kita, karena jika kita menekuni sesuatu yang kita suka, akan lebih mudah untuk menggali passion kita. Namun, passion juga bisa berawal dari sesuatu yang awalnya hanya sekedar melakuakan. Setelah menekuni hal tersebut, lama-kelamaan kita semakin menikmatinya. Sehingga pada akhirnya, kita akan melakukan hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Pada saat itulah kita menemukan passion kita, menemukan hal yang benar-benar ingin kita lakukan dan kita nyaman dalam melakukannya. Ketika kita sudah melakukan suatu hal dengan sungguh-sungguh, kita tidak perlu memikirkan hasilnya, karena yang terpenting adalah kita nyaman dan ikhlas dalam melakukannya.

Begitu juga dalam berbuat kebaikan. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama, maka lakukan. Walaupun terkadang, apa yang kita lakukan tidak terlalu dianggap oleh orang lain. Kita tidak perlu memikirkan balasan apa yang akan kita terima. Balasan yang kita terima itu, bukanlah tujuan kita. Tujuan kita hanya melakukan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Tidak peduli bagaimana cara mereka membalas, itu hak mereka. Itulah yang disebut keikhlasan.

 (Bait 5)

Apakah ada bedanya

Ketika kita bertemu

Dengan saat kita berpisah

Sama-sama nikmat

Tinggal bagaimana kita menghayati

Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan

Dada yang terluka

Duka yang tersayat

Rasa yang terluka

Pada bait ini, Ebiet mulai menyadari perasaannya. Apa bedanya antara pertemuan dan perpisahan? Pertemuan dan perpisahan itu sama saja, tinggal bagaimana kita memaknainya. Kadar penerimaan seseorang itu berbeda-beda. Ada seseorang yang mudah menerima keadaan, ada pula seseorang yang sangat sulit untuk menerima keadaan. Kita merasa begitu bahagia ketika bertemu dengan seseorang yang kita cintai. Namun ketika ternyata seseorang yang kita cintai meninggalkan kita, apakah kita bisa sebahagia ketika pertama kali bertemu? Jika pada akhirnya kita tidak bisa mencapai keinginan kita, apakah kita bisa sebahagia seperti saat kita bisa mencapai keinginan kita?

Semua itu tinggal bagaimana cara kita memaknainya. Perasaan sakit dan kecewa itu pasti ada. Hanya tinggal pada belahan jiwa yang mana kita menempatkan perasaan itu. Bagaikan sisi positif dan negatif, jika kita menempatkan perasaan itu pada sisi negatif, maka selamanya kita akan tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan. Namun jika kita bisa menempatkan perasaan itu pada sisi yang positif, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hidup kita, maka kita akan mendapatkan sebuah makna kehidupan yang lebih besar dari itu semua. Jadi, apa bedanya antara pertemuan dan perpisahan? Apa bedanya antara kebahagiaan dan kesedihan? Semua itu sama, “Tinggal bagaimana kita menghayati. Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan”

Sebenarnya, masih banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa kita jabarkan dalam lagu tersebut. Namun pada dasarnya, lagu ini mengajarkan kita tentang makna dari keikhlasan. Ada sebuah pribahasa Jawa, yaitu “Nrimo ing pandum”. Pribahasa ini berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan, “legowo”  menerima dan menghadapi setiap lika-liku kehidupan. Kadar penerimaan seseorang memang berbeda-beda, tetapi kita bisa belajar untuk meningkatkannya. Bagaimanapun juga hidup kita selalu berputar. Ada waktu, saat kita berada pada puncak keberhasilan kita, tetapi bisa saja saat itu juga kita terjun ke dalam jurang terdalam di hidup kita. Oleh karena itu, kita harus selalu meningkatkan kadar penerimaan di dalam diri kita. Belajar untuk berdamai dengan masalah-masalah hidup kita, berdamai dengan hidup kita, dan dasar dari itu semua adalah keikhlasan. Karena suka cita akan menjadi duka, jika kita menempatkannya pada sisi negatif di hati kita. Begitu pun duka cita, akan menjadi suka jika kita menempatkannya pada sisi positif di hati kita. Jadi, Apakah ada bedanya?

Sebelum membaca tulisan ini kalian mungkin sudah pernah mendengarkan lagu ini sebelumnya, atau mungkin sebaliknya. Tetapi yang pasti, lagu ini sangat bagus, syahdu, nyaman untuk didengarkan semua kalangan. Nahh.. penjabaran di atas adalah interpretasi atau makna yang saya dapat dari lagu tersebut. Teman-teman bisa saja menangkap pemahaman yang berbeda, tergantung bagaima kalian memaknainya hehee...Kalau tidak keberatan, kalian bisa sharing apa yang kalian tangkap dari lagu tersebut. I always open for your comments, sharing, advices, or anything! Terima kasih! See you...

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sunday, December 1, 2019

[Cerpen] Antara Fajar dan Senja

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hehe.. 😁
Apa kabar gaes? Semoga baik2 aja yaa..Terima kasih udah mau mengunjungi blog pribadiku ini. Selamat datang juga buat pendatang baru di sini. Enjoy!!!

Awalnya, aku membuat ide cerita ini buat ikut kompetisi menulis cerpen bertema "Cinta dan Kasih Sayang", tapi karena telat pembayaran dan saat deadline cerita ini belum selesai, akhinya ngga jadi aku ikutin kompetisi.

Cerita ini aku buat karena aku terinspirasi oleh seorang penulis wattpad juga. Tetapi, isi maupun alur cerita, real hasil pemikiranku sendiri.

Sebenernya aku sempat buntu, ngga tau mau gimana akhir dari cerita ini. Ngga ada niatan buat lanjutin cerita yang udah setengah jadi ini. Tapi, waktu aku buka2 story WA temen aku, ada salah satu teman yang posting tentang Hari HIV/AIDS Sedunia. Triiingg.. Auto dapet pencerahan dong. Aku langsung searching kapan tepatnya hari peringatan itu. Ternyata bertepatan tanggal 1 Desember 2019.

Itung2 buat mengisi malam minggu, aku lanjutin lah tu nulis cerpennya. Waktu buka draft cerita, baca ulang dri awal, auto muncul ide2 baru, revisi sedikit, daann selesaaiii....

Jadi cerita ini aku publish khusus untuk memperingati "World HIV/AIDS's Day 2019". Happy Reading...

-Antara Fajar Dan Senja-

Kini Ia sudah bukan lagi seorang remaja labil yang seenaknya dalam bertindak. Kini semua perbuatannya perlu pertimbangan yang matang dan tanggung jawab yang besar. Sudah cukup menyiksa hukuman yang Ia terima saat ini. Dhio tak masalah jika harus terus bergelut dengan ARV (Antiretroviral – obat untuk menghambat pertumbuhan virus HIV) dan secara rutin berkunjung ke rumah sakit untuk check up. Ia tak masalah dengan orang-orang yang memandang aneh kepadanya. Namun, tidak untuk yang satu ini.

Dhio menopang kepalanya yang terasa berat dengan kedua tangannya dan terduduk di lantai kamar yang dingin. Dadanya sesak mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Senja, anak perempuan semata wayangnya bahkan tak sudi untuk memandangnya. Apalagi untuk memanggilnya dengan sebutan “Ayah”. 

Senja lagi-lagi pulang dalam keadaan menangis. Dhio sedang duduk di ruang tamu saat anaknya pulang. Tanpa menyapa, Senja bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ketika Dhio mencoba mengejar, pintu kamar itu ditutup secara paksa dari dalam, hingga menimbulkan suara yang nyaring. Dhio terdiam mematung di depan pintu kamar itu. Tak lama, sentuhan lembut memeluk dirinya.

Fira memeluk suaminya dengan erat, berusaha menguatkan laki-laki tersayangnya. Sebenarnya, kantung matanya pun tak tahan lagi menahan air mata yang melesak keluar. Tetapi sekarang Ia tak boleh mangis, “Aku harus kuat!” katanya dalam hati karena Ia harus menguatkan hati suaminya yang terlihat kuat namun sebenarnya sangatlah rapuh. Perlahan Fira menuntun Dhio untuk menenangkan diri di dalam ruangannya.

Setelah mengantar secangkir teh hangat untuk Dhio, Fira menghampiri kamar anak perempuannya sambil membawa sekotak biskuit dan segelas susu hangat. Ketika Ia hendak membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu, Ia mendengar isakan kecil. Fira berhenti sejenak untuk sekedar menata hatinya.

“Senja...” Fira meletakkan nampan yang Ia bawa di atas nakas, kemudian mengusap lembut gundukan selimut yang menutupi tubuh anaknya.

“Senja... Kenapa menangis, Nak?” Senja bangun dari baringannya dan segera memeluk erat tubuh Sang Ibu. Fira bisa merasakan pundaknya basah oleh air mata anaknya. Ia paham betul, apa yang dirasakan anaknya. 

Dhio, suaminya adalah seorang ODHA (Orang yang memiliki HIV/AIDS). Untuk memilih Dhio sebagai pasangan hidupnya, merupakan sebuah keputusan besar penuh konsekuensi dan tanggung jawab sepanjang hidup Fira. Sedangkan Senja, adalah anugrah terindah dari-Nya atas rasa cintanya yang tak ternilai untuk Dhio. Fira bahkan dengan sabar dan telaten merawat Dhio, bersama menjalani rangkaian proses medis supaya tubuhnya tetap terjaga bersih, negatif dari jangkauan virus HIV.

Fira tahu, Senja di usianya yang menginjak 17 tahun, tidak mudah bagi dirinya untuk bisa mengerti dan memahami bahwa ayahnya adalah seorang ODHA, tererlebih di tengah kerasnya pandangan masyarakat. Fira tahu, bahwa anak tersayangnya ini kerap kali juga mendapat perlakuan diskriminatif dari teman-temannya yang mengetahui keadaan ayahnya. Karena itu lah, Senja membenci ayahnya. Ia takut, akan cap yang diberikan pada dirinya sebagai anak dari seorang ODHA oleh masyarakat. Walaupun secara fisik, Senja pun negatif dari jangkauan virus HIV.

Fira mengusap lembut rambut anaknya yang masih bersandar, memeluknya dengan erat.

“Senja..” Fira berkata dengan lembut, “Senja sayang sama ibu, kan?” Fira bisa merasakan anaknya mengangguk pelan. 

“Ibu sayaaang sekali sama Senja.” Fira semakin melembutkan usapannya.

 “Ayah juga. Ayah sayaaang sekali sama Senja. Senja ngga kangen sama Ayah?” 

Tangis Senja pun semakin menjadi saat mendengar penuturan lembut ibu tersayangnya itu. Fira pun memeluk anaknya semakin erat, menyalurkan kehangatannya.

---

Hari Senin, entah mengapa menjadi momok tersendiri bagi para siswa di sekolah, termasuk Senja. Senja merasa hari Senin adalah hari dimulainya waktu-waktu membosankan hingga empat hari ke depan. Senja bukannya malas untuk pergi ke sekolah, Ia hanya malas untuk bertemu teman-teman yang terlalu sibuk mengurusi kehidupannya. Ia tak habis pikir, sebanyak itukah waktu luang mereka untuk mencampuri urusan hidupnya?

“Woyy!!” Senja terperanjat, kaget saat seseorang menepuk pundaknya dengan keras. 

“Fajar.” Batin Senja. Senja terkesiap dan menatap bingung.

“Heum??”

“Ngapain sih bengong di depan gerbang?” Tanya Fajar. Senja merengut kesal sambil meremas-remas tali tasnya. Fajar tersenyum melihatnya, Ia tahu alasan di balik kekesalan sahabatnya. Sepertinya itu memang sudah menjadi kebiasaan Senja.

“Ngapain kamu pake masker?” Senja menatap bingung.

“Ngga papa, siapa tahu..aku tambah ganteng kalo pake masker. Iya ngga?” Fajar mengedipkan matanya jahil.

“Yuk masuk! Keburu bel nanti..” Fajar menarik tangan Senja, mengajaknya berlari menuju kelas mereka.

Sebenarnya Senja bukanlah anak yang pendiam dan tak pandai bergaul. Senja memilih untuk membatasi diri sendiri dari teman-temannya. Senja khawatir mereka akan menjauh jika mengetahui keadaannya. Sejauh ini hanya satu orang yang mampu berteman baik dengan Senja. Siapa lagi jika bukan Fajar.

Sejak pertama kali mereka bertemu setelah libur panjang kenaikan kelas, Fajar menyadari seseorang berdiri di sampingnya yang juga sedang menelusuri papan pengumumam pembagian kelas. Fajar pergi terlebih dahulu saat itu dan ternyata Senja pun berjalan ke arah yang sama setelahnya, mereka satu kelas. Sejak itulah, Fajar selalu memperhatikan Senja. Ia tahu, Senja membatasi dirinya untuk berteman, tetapi tak tahu apa alasan Senja melakukan itu.

Hingga suatu hari, Fajar memergoki sekumpulan siswa perempuan tengah bertengkar di rooftop sekolah. Salah satu dari siswa itu adalah Senja yang merupakan korbannya. Senja yang saat itu sudah tak tahan, mencoba untuk memberontak dan memukul seorang siswa perempuan yang menjambak rambutnya. Seorang lainnya yang melihat temannya dipukul oleh Senja pun tidak tinggal diam. Ia mencakar pipi Senja hingga meninggalkan guratan merah yang mengeluarkan darah. Fajar berlari mendekat dan menarik Senja untuk berlindung di belakangnya.

“Bubar sekarang atau aku laporin BK!” Fajar menekankan pada tiap katanya dan menatap mereka dengan tegas.

“Hah! Berlagak jadi pahlawan. Apa untungnya sih ngejar cewek virus kayak dia!?”

Tak lama setelah mereka pergi, Fajar menarik tangan Senja menuju UKS, tetapi Senja menghempaskan tangannya.

“Aaaaaaa!!! Apa untungnya jadi pahlawan anak seorang ODHA!!! Pergi kamu! Pergii!!!”

Fajar terkesiap mendengar perkataan Senja. Senja pun tak sadar dengan apa yang Ia katakan. Fajar tak mampu membiarkan begitu saja apa yang didengarnya. Ia merasa perlu tahu tentang hal itu dan penting baginya untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah mengobati luka di pipi Senja dan beberapa lebam di tangannya, Fajar dengan perlahan mulai memberikan beberapa pertanyaan tentang maksud perkataan Senja tadi. Pembawaan Fajar yang tenang mampu memberikan ketenangan juga pada Senja, hingga Senja mau menceritakan apa yang dia alami tanpa merasa terancam. Akhirnya Fajar pun mengetahui semuanya, bahkan tentang Senja yang membenci kenyataan bahwa ayahnya adalah seorang ODHA.

---

Senja menghembuskan nafas beratnya yang kesekian kali. Sudah hampir dua bulan ini Fajar mengambil cuti dari sekolah. Senja bahkan sudah mencari informasi dari wali kelasnya, tetapi saat Ia menanyakan alasan Fajar mengambil cuti, wali kelasnya bahkan tidak mau mengatakannya. Senja ingin mengunjungi Fajar, tetapi yang Ia tahu hanya Fajar yang tinggal di sebuah yayasan yatim piatu, tanpa tahu alamat dan nama yayasan itu. Jujur saja, Senja merindukan sahabatnya itu. Ada perasaan yang berbeda ketika Ia bersama Fajar. 

Senja merasa hari ini sangat membosankan dari hari-hari biasanya. Ia melangkah gontai keluar dari gerbang sekolah. Baru beberapa langkah keluar dari area sekolah, seorang wanita paruh baya memanggilnya. Senja menoleh dan melihat wanita itu bergegas mendekatinya. Begitu sampai di hadapannya, tanpa mengatakan apapun wanita itu menyerahkan sebuah bingkisan berbentuk kotak dengan hiasan pita merah di tengahnya. 

“Terima kasih, sudah menambah semangat hidupnya.” Wanita itu tersenyum lembut sambil mengusap kepala Senja. Setelah mengatakan itu, wanita itu bergegas berjalan pergi. Senja semakin bingung dibuatnya.

Senja meletakkan tas sekolahnya begitu saja tergelatak di meja ruang tamu dan sepatunya yang berserakan di depan pintu. Di ruang tamu, Ia segera membuka kotak bingkisan itu. Bingkisan itu berisi sebuah kotak berukuran lebih kecil yang dibungkus kertas berwarna merah dan sebuah amplop surat berwarna coklat. Senja memilih untuk membaca suratnya terlebih dahulu.

“Hai Senja...

Kalau kamu sekarang sedang membaca surat ini, berarti kamu sudah bertemu dengan Bibi Yuna. Dia adalah pemilik Yayasan Bunga Matahari, panti asuhan tempat aku tinggal selama ini. Aku sangat berterima kasih padanya sudah merawatku selama ini. Titip salam ya, kalau kamu bertemu dengannya lagi.

Senja..Aku ingin menceritakan sebuah kisah..

Dulu, di sebuah perumahan di pinggiran kota, hidup seorang perempuan cantik. Namun sayang, hidupnya sepertinya kurang beruntung. Ia tinggal sendirian karena kedua orang tuanya sudah tiada. Terlebih kedua orang tuanya bukan termasuk orang yang berkecukupan sehingga Ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.

Singkat cerita, Ia melamar pekerjaan di sebuah cafe. Karena latar belakang keluarga dan pendidikannya yang rendah, Ia hanya diberi pekerjaan mencuci piring, membersihkan cafe tersebut sebelum cafe itu buka dan setelah cafe itu tutup. Suatu ketika, bos dari cafe tersebut berkata bahwa Ia akan diberi kenaikan jabatan dan gaji yang besar karena kerjanya yang begitu giat. Namun sepertinya, lagi-lagi ini bukan keberuntungannya. Ia berkahir di sebuah ruangan gelap tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Bos cafenya memperdagangkan dirinya pada pengusaha muda demi mendapatkan uang lebih untuk memperbesar usahanya. Walaupun akhirnya Ia bisa bebas dari itu semua, setelah diketahui bahwa dirinya hamil. Pengusaha muda itu menelantarkannya.

Perempuan itu kembali kerumahnya dengan keadaan kacau. Beberapa hari setalahnya, dengan tekanan batin yang besar Ia memberanikan dirinya untuk pergi ke Rumah Sakit demi mengecek kesehatannya. Bayi yang dikandungnya sudah berusia 3 minggu. Ia bahagia mengetahui Ia tengah mengandung, namun juga rasa takut dan khawatir menghantuinya. Hingga kenyataan, menamparnya untuk yang kesekian kalinya. Ia terkena virus HIV dan itu mengancam bayi yang ada di kandungannya.

Singkat cerita, perempuan itu menjalani hidupnya dengan penuh tekanan hingga bayi yang di kandungnya lahir. Seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi menghadapi kejamnya kehidupan. Bayi itu juga terkena virus HIV. Karena takut dan khawatir begitu menghantuinya, perempuan itu memilih untuk menitipkan bayinya pada seorang sahabat dekatnya yang merupakan pemilik dari yayasan yatim piatu ini. Seperti kata Bibi Yuna, sebuah kertas terselip di dalam selimut bayi itu, bertuliskan ‘Namanya Fajar, karena Ia lahir saat fajar tengah menyingsing. Terima kasih’. Akhirnya, perempuan itu memilih untuk mengakhiri hidupnya karena merasa bersalah.

Kamu tahu, Senja? Aku tidak bisa membeci ibuku, karena aku tahu ini bukan keinginannya. Jika Ia bisa memilih, aku tahu pasti Ia akan memilih kehidupan yang lebih baik dari ini. Aku memikirkan bagaimana seorang perempuan yang tengah megandung terlebih Ia merupakan seorang ODHA mampu hidup ditengah kejamnya pandangan sosial. Hingga akhirnya bayi yang dikandungnya lahir, seberapa besar tekanan batin yang Ia rasakan.

Aku sangat bersyukur mampu hidup selama 17 tahun ini. Padahal, aku bisa saja tak selamat ketika aku dilahirkan. Ataupun aku hanya bisa hidup beberapa tahun saja. Apa kamu bisa membayangkan, Senja? Ketika kamu tahu bahwa waktu hidupmu tidak lama lagi, bahkan sejak lahir kamu sudah diberi tahu bahwa hidupmu tak akan lama. Ketika aku sudah mampu berpikir dan mengerti hidup, hanya satu yang aku pikirkan, yaitu apa yang benar-benar ingin aku capai dan ingin aku lakukan selama aku hidup.

Aku sudah dituntut untuk menentukan tujuan hidupku sejak kecil, karena aku tahu hidupku tidak akan lama. Aku tak punya waktu untuk memikirkan teman-teman yang mengejekku ataupun pandangan orang-orang disekitarku. Mereka bahkan tidak tahu apa yang aku alami. Aku mungkin bisa saja hidup lebih lama dari ini. Namum HIV bukan virus biasa, pengobatan HIV itu jangka panjang dan berkelanjutan. Kalau telat sekali saja tidak meminum obat, maka semuanya bisa kembali dari awal lagi dan itu pun sifatnya hanya menghambat saja, bukan menyembuhkan. Bibi Yuna tidak mempunyai banyak pendapatan untuk bisa mengobatiku dan aku tidak mungkin tega membebankan ini semua kepadanya.

Sebenarnya, aku sudah hidup lebih dari prediksi yang diperkirakan dokter. Karena beberapa bulan terakhir ini, aku merasa masih ada yang harus aku selesaikan sebelum aku pergi. Sehingga aku berdoa lebih giat, supaya aku diberi waktu lebih lama untuk bisa mengatakan ini padamu. Namun sepetinya, aku tetap tidak bisa mengatakannya secara langsung.

Senja... Aku menyayangimu. Terima kasih sudah menjadi tujuan hidupku yang terakhir. Aku senang mengenalmu, sehingga aku bisa merasakan masa-masa remaja yang membahagiakan. Terima kasih kembali kalau kamu juga menyayangiku. Namun, ada satu yang aku ingin kamu paham.

Rasa sayangku ini tak seberapa jika dibandingkan dengan rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh orangtuamu, terlebih Ayahmu. Aku meminta tolong padamu, sebagai permintaan terakhirku. Berdamailah dengan kenyataan dan kembalilah pada dekapannya. Karena jika Ayahmu bisa memilih, maka Ia akan memilih kehidupan yang lebih baik dari ini dan tidak akan membiarkan anak perempuannya tersakiti.

Tertanda, Fajar...”

Senja tak mampu lagi menahan air matanya yang entah sejak kapan turun begitu deras. Ia mendekap kertas surat tersebut dengan erat. Matanya menangkap sebuah kotak yang belum Ia buka. Ketika dibuka, bingkisan itu berisi dua buah buku berjudul “Apa itu HIV/AIDS” dan “Mari Mengenal ODHA”. Air matanya semakin tak terbendung. Senja menatap kamar kedua orang tuanya dan mendapati Fira yang memperhatikannya sedari tadi. Fira mendekati anak perempuannya, memeluknya sambil mengambil surat itu dan membacanya. Senja menangis sesenggukan didekapan ibunya.

Selesai membaca surat tersebut Fira berkata, “Kamu tahu, kenapa kamu diberi nama ‘Senja’? Karena kamu lahir saat pergantian siang dan malam, saat senja datang. Ayahmu yang memberikan nama itu. Saat itu, Ia bahagia sekali karena mendapatkan anugrah seorang bayi perempuan yang cantik dan lucu. Bukan hanya itu, Ia juga bahagia karena Ia berhasil. Berhasil menjaga kamu dan ibu tetap negatif dari jangkauan virus HIV”.

Tiba-tiba, pintu rumah mereka terbuka dan seseorang masuk sambil mengucap salam. Dhio telah selesai dengan pekerjaannya. Senja yang mendengar suara ayahnya, segera berpaling dan memeluk ayahnya dengan erat. “Ayah..” Senja mengucapkannya sambil berbisik, tetapi Dhio masih bisa mendengarnya.

Dhio merasa semua beban yang Ia pikul di pundaknya runtuh begitu saja dan Ia membalas memeluk anaknya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. Fira pun mendekati dua orang tersayangnya itu, ikut masuk dalam hangatnya dekapan sebuah keluarga.

---

Akhir pekan, Senja ditemani kedua orang tuanya menyempatkan diri untuk mengunjungi Yayasan Bunga Matahari milik Bibi Yuna sambil menjenguk tempat Fajar tertidur untuk waktu yang abadi. Senja tak berhenti menatap batu nisan yang ada di depannya. Ia berjongkok di samping batu nisan itu.

“Terima kasih, kamu udah ngelakuin yang terbaik dalam hidup kamu. Aku juga menyayangimu.” Senja meletakkan seikat bunga matahari dengan pita merah sebagai hiasannya.

Orang terakhir yang meninggalkan nisan Fajar adalah Dhio. Ia mengakatan bahwa Ia masih ingin mendoakan Fajar sekali lagi. Setelah semuanya kembali ke yayasan, giliran Dhio yang berjongkok di samping nisan Fajar. Ia mengusap lembut nisan itu dan memandangnya dengan penuh arti. 

“Terima kasih, aku mengerti keadaanmu. Maafkan aku, kamu sudah bebas dari ini semua. Terima kasih, sudah menyayangi Senja. Maafkan aku. Kini tinggal aku yang menjalankan tujuan hidupku selanjutnya. Terima kasih. Semoga kamu bahagia di sana, Anakku...”

Yogyakarta, 30 November 2019
El Syifa Putri Widianto