Assalamu’allaikum
Wr. Wb.
Hello
what’s up guys!!! Hehee... ketemu lagi sama aku nih :v. Tanya kabar dulu
kali ya. Apa kabar gaes? Semoga tiap harinya baik-baik aja yaa, hatinya juga
*Upss :D. Selamat datang juga di kegabutanku, buat temen-temen yang baru
pertama kali mampir di lapakku ini Ehee...
Kebetulan
sekarang aku lagi punya banyak waktu nih buat sekedar syering-syering sama
kleann *Wkwk. So, Ceritanya sekarang aku udah kuliah di salah satu
kampus di kota Yogyakarta yaitu, UIN Sunan Kalijaga gaes. Nah, sekarang ini
cerintanya aku lagi liburan dan pulang kampung. Sebenernya kenapa aku pengen
banget kuliah di Jogja itu simple, karena di sana banyak sumber-sumber
buku dan yang jelas aku bisa deket sama Gramedia Sudirman :v *Gak nanya cuy-_-*. Itu tempat favorit aku
banget sejak dulu dan setiap pergi ke Jogja aku selalu pengen ke sana tapi gak
kesampean. Finally, aku bisa kesana juga gaes wkwk dan aku betah
berlama-lama di sana.
Eittss... jangan
cepet-cepet di close atau di scroll down dulu hehe.. Ngobrol
bentar lah, basa-basi beberapa paragraf buat pengantar sebelum ke intinya. Jadi
waktu kemarin aku ke Gramedia, aku beli salah satu buku yang lagi booming
karya Syahid Muhammad yang judulnya “Egosentris”. Sebenernya buku dia itu
menarik-menarik banget, cuma aku tertarik sama yang ini karena ngga terlalu Romance
kontennya. Singkat cerita, waktu di rumah aku bilang ke Ayahku yang notabene
juga suka baca buku. “Yah, aku punya kata-kata bagus. Bukan punya sie, mbaca”.
Aku tunjukin deh puisi pembukaan yang ada di bagian prolog. Jadi ini nihh
puisinya.......
Pada suatu pertemuan, kita seolah
menemukan
penjelasan,
dari semua tunggu yang rela kita
nantikan tanpa lelah.
Pada suatu kehilangan, kita
sadar.
Bahwa penjelasan baru saja tiba,
Sedang di awal, hanyalah
pertanyaan yang menjelma
jawaban.
Akhirnya, kita tidak lebih dari
potongan rindu,
Sisa-sisa tanya yang tak sempat
bertemu kepastian.
Keburu habis digerus tanya demi
tanya,
Dari satu kepergian menuju
kepergian lain.
Hidup tak pernah rumit,
Yang rumit hanyalah rasa syukur.
Karena kita selalu
mempertanyakannya.
Setelah Ayahku selesai
baca puisi itu, mulai deh kita diskusi tentang apasih makna dari puisi itu yang
dari kata-katanya aja udah susah banget buat dicerna secara gampang. Tapi,
itulah ciri khas dari Bang Iid, dia pandai merangkai kata-kata supaya terlihat
indah. Nah, dari diskusi aku dengan Ayahku, kita mendapatkan sesuatu yang WoW
banget gaess *Alay(‘-_-).
Kali ini aku pengen share
nih, tentang makna dari puisi pembukaan yang ada di buku Egosentris karya
Syahid Muhammad. Kita di sini relax aja yah, pelan-pelan, santai sambil
kita merenungkan apa aja sih yang udah kita dapet, kita punya, dan kita lakuin
sampai sejauh ini.
Kita mulai dari bait pertama, yaitu:
Pada suatu pertemuan, kita seolah
menemukan penjelasan,
dari semua tunggu yang rela kita
nantikan tanpa lelah.
Kalo dibaca sekilas, mungkin kalian akan berpikir
kalau ini puisi tentang Romance atau puisi tentang kehidupan yang ngga
terlalu dalem-dalem banget isinya. Tapi, kalo kalian baca sambil memahami,
kalian harus membaca beberapa kali sampai kalian paham apa maksud sebenernya. Bisa
di baca dari bait pertama itu, pada suatu pertemuan kita seolah menemukan
penjelasan. Maksud dari “suatu pertemuan” ini adalah pada suatu titik di
kehidupan kita, di salah satu kejadian atau hal yang terjadi di hidup kita.
A penjelasan B
o----------------------------------------------o
Misalkan, A dan B itu adalah dua buah titik yang ada
di kehidupan kita. A kehidupan kita yang lalu dan B kehidupan kita sekarang.
Dari titik A menuju titik B, di situ kita mengalami proses dan dari proses yang
terjadi itulah kita mendapatkan sebuah penjelasan dari apa yang kita lakukan.
Melalui penjelasan itu kita seolah mengerti “Oh jadi begini..”, ”Jadi nanti
kaya gini..”, ”Oh pasti bakalan kaya gini..”, ”Oh nanti aku bakalan kaya
gini..”, yang sebenernya kita belum tau apa yang akan terjadi pada saat kita
sampai di titik B itu. Semua penjelasan itu adalah praduga atau asumsi kita
yang sebenarnya itu masih kita pertanyakan benar atau tidaknya akan terjadi
seperti itu. Untuk sampai di titk B, kita memerlukan waktu yang lama, ibarat
kita menunggu sesuatu hal yang dengan rela kita nantikan tanpa lelah.
Bait kedua, yaitu:
Pada suatu kehilangan, kita
sadar.
Bahwa penjelasan baru saja tiba,
Sedang di awal, hanyalah
pertanyaan yang menjelma jawaban.
Di bait kedua ini
diceritakan kita udah sampai nih di titik B. Kata “kehilangan” di sini berarti,
dugaan-dugaan diawal itu hilang . Nah, di sini lah kita baru sadar bahwa
“penjelasan baru saja tiba” yaitu mengetahui sesuatu yang sebenarnya. Kita baru
menyadari bahwa dugaan-dugaan yang kita pikirkan saat proses dari A menuju B
ini hanyalah ekspektasi kita dan pada dasarnya kita pun ngga tau apakah benar
atau tidak. Sebenarnya dalam hati kita pun bertanya “Bener ngga sih bakalan
kaya gini?”, tapi pertanyaan itu kita sangkal oleh ke-sok tauan kita *wkwk.
Kita tau itu belum tentu benar terjadi, tapi kita *secara kasarnya* sok tau
kalo nanti tuh bakalan kaya gini. Pada bait ini digambarkan dengan kalimat
“Sedang di awal, hanyalah pertanyaan yang menjelma jawaban”. Kesimpulan dari
bait ini adalah kita baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya sedang di awal
hanyalah sekedar dugaan saja.
Bait ketiga, yaitu:
Akhirnya, kita tidak lebih dari
potongan rindu,
Sisa-sisa tanya yang tak sempat
bertemu kepastian.
Keburu habis digerus tanya demi
tanya,
Dari satu kepergian menuju
kepergian lain.
“Akhirnya, kita tidak lebih dari potongan rindu”,
kata “rindu” di sini artinya menginginkan sesuatu, yaitu sebuah keinginan untuk
bisa mewujudkan apa yang ada dalam ekspektasi kita. Semua dugaan-dugaan kita di
awal sebenarnya hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran kita
tanpa kita tau apa jawabannya, karena kita belum mengalaminya. Satu pertanyaan
tidak terjawab, akhirnya kita memunculkan sebuah pertanyaan lain yang hasilnya
sama tanpa jawaban pasti, hingga muncul pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dan
begitu seterusnya. Hal ini digambarkan dengan kalimat “Sisa-sisa tanya yang tak
sempat bertemu kepastian. Keburu habis digerus tanya demi tanya”.
Pada akhirnya, kita hanya disibukkan dengan
dugaan-dugaan tentang apa yang akan kita dapatkan nanti, apa yang akan terjadi
pada kita selanjutnya. Tanpa kita sadari ada “satu kepergian menuju kepergian
lain” maksudnya, waktu kita yang berlalu pergi dengan cepat. Waktu kita habis hanya
untuk memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang akan kita
dapatkan, tanpa kita mamaknai apa saja yang baru saja kita lewati. Moment atau
hal berharga yang kita miliki saat itu, telah kita acuhkan tanpa kita
memaknai dan menikmatinya. Hingga pada saatnya titik B itu tiba dan berada jauh
dari ekspektasi kita, kita baru menyadari bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu
tanpa melakukan suatu hal berarti yang mungkin dapat mempengaruhi titik B ini agar
ekspektasi kita terwujud.
Bait keempat, yaitu:
Hidup tak pernah rumit,
Yang rumit hanyalah rasa syukur.
Karena kita selalu
mempertanyakannya.
Bait keempat ini adalah
inti yang sebenarnya dari puisi ini. “Hidup itu tak pernah rumit”, ya hidup itu
mudah, simple, tidak rumit, syaratnya apa? Bersyukur. Nikmati dan maknai
apa yang kita miliki, hadapi, dan jalani saat ini. Cobalah untuk menerima
setiap kegagalan, tiap kesalahan, tiap kekalahan, dan tiap kekurangan.
Berdamailah dengan egomu masing-masing. Berusahalah untuk memaafkan. Jika kita
pandai bersyukur maka hidup kita akan mudah, karena kita mampu untuk menerima
tiap kekurangan pada hidup kita. Jalani hidup sebaik mungkin sesuai dengan
prinsip, norma, dan peraturan yang ada. Yang terpeting bukanlah apa yang akan
terjadi besok, itu hanya bisa kita duga-duga saja. Namun, yang penting adalah apa
yang kita miliki saat ini *Auto nyalain D’masive – Jangan Menyerah Wkwk*. Bagaimana
kita mensyukuri apa-apa yang ada dalam hidup kita saat ini sambil kita berusaha
untuk mendapatkan hasil yang baik di masa depan.
Yang rumit itu adalah
bagaimana caranya membuat diri kita sendiri bersyukur. Manusia adalah makhluk
yang kompleks, terlebih manusia menolak untuk menjadi simple *Kata Bang Iid*.
Manusia adalah makhluk yang penuh dengan pertanyaan, istilahnya ya “kepo”.
Tetapi, yang perlu kita Bold, Italic, dan Underline adalah
sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu “Apakah aku sudah
bersyukur hari ini?”.
Secara keseluruhan puisi
ini mengandung moral value, yaitu “Bersyukurlah maka hidupmu tak akan
rumit”. Yang penting bukan apa yang kita inginkan, tetapi apa yang kita miliki
saat ini. Karena apa? Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang
kita ingikan dan yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang memang kita butuhkan
menurut Tuhan. Berusahalah untuk menerima setiap keadaan. Walaupun itu
terkadang menyakitkan buat kita, tapi di balik itu semua Tuhan punya rencana
yang luar biasa. Aku jadi inget sebuah kata-kata yang aku baca di Instagram,
yaitu “Butuh berapa kehilangan lagi, sampai kita mau untuk berterima
kasih?”. So, syukurilah apa yang kita punya saat ini gaes.
Huweee..... Beneran WoW
bangett kann maknanyaa (^_^). Kalo belum paham, silahkan baca lagi dari awal
hehee pelan-pelan ajaaa. Ini murni hasil pemikiranku. Silahkan kalian bisa sharing
kalo kalian punya pendapat lain okayy. Kayanya sampai sini dulu deh
yaa. Hehee.. Terima kasih buat temen-temen yang mau mampir di kegabutanku ini. Bye
Bye....
Wassalamu’allikum Wr.Wb.
No comments:
Post a Comment