Friday, January 11, 2019

Yang Rumit Hanyalah Rasa Syukur


Assalamu’allaikum Wr. Wb.

Hello what’s up guys!!! Hehee... ketemu lagi sama aku nih :v. Tanya kabar dulu kali ya. Apa kabar gaes? Semoga tiap harinya baik-baik aja yaa, hatinya juga *Upss :D. Selamat datang juga di kegabutanku, buat temen-temen yang baru pertama kali mampir di lapakku ini Ehee...

Kebetulan sekarang aku lagi punya banyak waktu nih buat sekedar syering-syering sama kleann *Wkwk. So, Ceritanya sekarang aku udah kuliah di salah satu kampus di kota Yogyakarta yaitu, UIN Sunan Kalijaga gaes. Nah, sekarang ini cerintanya aku lagi liburan dan pulang kampung. Sebenernya kenapa aku pengen banget kuliah di Jogja itu simple, karena di sana banyak sumber-sumber buku dan yang jelas aku bisa deket sama Gramedia Sudirman :v  *Gak nanya cuy-_-*. Itu tempat favorit aku banget sejak dulu dan setiap pergi ke Jogja aku selalu pengen ke sana tapi gak kesampean. Finally, aku bisa kesana juga gaes wkwk dan aku betah berlama-lama di sana. 

Eittss... jangan cepet-cepet di close atau di scroll down dulu hehe.. Ngobrol bentar lah, basa-basi beberapa paragraf buat pengantar sebelum ke intinya. Jadi waktu kemarin aku ke Gramedia, aku beli salah satu buku yang lagi booming karya Syahid Muhammad yang judulnya “Egosentris”. Sebenernya buku dia itu menarik-menarik banget, cuma aku tertarik sama yang ini karena ngga terlalu Romance kontennya. Singkat cerita, waktu di rumah aku bilang ke Ayahku yang notabene juga suka baca buku. “Yah, aku punya kata-kata bagus. Bukan punya sie, mbaca”. Aku tunjukin deh puisi pembukaan yang ada di bagian prolog. Jadi ini nihh puisinya.......

Pada suatu pertemuan, kita seolah menemukan

penjelasan,

dari semua tunggu yang rela kita nantikan tanpa lelah.

Pada suatu kehilangan, kita sadar.

Bahwa penjelasan baru saja tiba,

Sedang di awal, hanyalah pertanyaan yang menjelma

jawaban.

Akhirnya, kita tidak lebih dari potongan rindu,

Sisa-sisa tanya yang tak sempat bertemu kepastian.

Keburu habis digerus tanya demi tanya,

Dari satu kepergian menuju kepergian lain.

Hidup tak pernah rumit,

Yang rumit hanyalah rasa syukur.

Karena kita selalu mempertanyakannya.

Setelah Ayahku selesai baca puisi itu, mulai deh kita diskusi tentang apasih makna dari puisi itu yang dari kata-katanya aja udah susah banget buat dicerna secara gampang. Tapi, itulah ciri khas dari Bang Iid, dia pandai merangkai kata-kata supaya terlihat indah. Nah, dari diskusi aku dengan Ayahku, kita mendapatkan sesuatu yang WoW banget gaess *Alay(‘-_-).

Kali ini aku pengen share nih, tentang makna dari puisi pembukaan yang ada di buku Egosentris karya Syahid Muhammad. Kita di sini relax aja yah, pelan-pelan, santai sambil kita merenungkan apa aja sih yang udah kita dapet, kita punya, dan kita lakuin sampai sejauh ini.

Kita mulai dari bait pertama, yaitu:

Pada suatu pertemuan, kita seolah menemukan penjelasan,
dari semua tunggu yang rela kita nantikan tanpa lelah.

Kalo dibaca sekilas, mungkin kalian akan berpikir kalau ini puisi tentang Romance atau puisi tentang kehidupan yang ngga terlalu dalem-dalem banget isinya. Tapi, kalo kalian baca sambil memahami, kalian harus membaca beberapa kali sampai kalian paham apa maksud sebenernya. Bisa di baca dari bait pertama itu, pada suatu pertemuan kita seolah menemukan penjelasan. Maksud dari “suatu pertemuan” ini adalah pada suatu titik di kehidupan kita, di salah satu kejadian atau hal yang terjadi di hidup kita.

A              penjelasan              B
o----------------------------------------------o

Misalkan, A dan B itu adalah dua buah titik yang ada di kehidupan kita. A kehidupan kita yang lalu dan B kehidupan kita sekarang. Dari titik A menuju titik B, di situ kita mengalami proses dan dari proses yang terjadi itulah kita mendapatkan sebuah penjelasan dari apa yang kita lakukan. Melalui penjelasan itu kita seolah mengerti “Oh jadi begini..”, ”Jadi nanti kaya gini..”, ”Oh pasti bakalan kaya gini..”, ”Oh nanti aku bakalan kaya gini..”, yang sebenernya kita belum tau apa yang akan terjadi pada saat kita sampai di titik B itu. Semua penjelasan itu adalah praduga atau asumsi kita yang sebenarnya itu masih kita pertanyakan benar atau tidaknya akan terjadi seperti itu. Untuk sampai di titk B, kita memerlukan waktu yang lama, ibarat kita menunggu sesuatu hal yang dengan rela kita nantikan tanpa lelah.

Bait kedua, yaitu:

Pada suatu kehilangan, kita sadar.
Bahwa penjelasan baru saja tiba,
Sedang di awal, hanyalah pertanyaan yang menjelma jawaban.

Di bait kedua ini diceritakan kita udah sampai nih di titik B. Kata “kehilangan” di sini berarti, dugaan-dugaan diawal itu hilang . Nah, di sini lah kita baru sadar bahwa “penjelasan baru saja tiba” yaitu mengetahui sesuatu yang sebenarnya. Kita baru menyadari bahwa dugaan-dugaan yang kita pikirkan saat proses dari A menuju B ini hanyalah ekspektasi kita dan pada dasarnya kita pun ngga tau apakah benar atau tidak. Sebenarnya dalam hati kita pun bertanya “Bener ngga sih bakalan kaya gini?”, tapi pertanyaan itu kita sangkal oleh ke-sok tauan kita *wkwk. Kita tau itu belum tentu benar terjadi, tapi kita *secara kasarnya* sok tau kalo nanti tuh bakalan kaya gini. Pada bait ini digambarkan dengan kalimat “Sedang di awal, hanyalah pertanyaan yang menjelma jawaban”. Kesimpulan dari bait ini adalah kita baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya sedang di awal hanyalah sekedar dugaan saja.

Bait ketiga, yaitu:

Akhirnya, kita tidak lebih dari potongan rindu,
Sisa-sisa tanya yang tak sempat bertemu kepastian.
Keburu habis digerus tanya demi tanya,
Dari satu kepergian menuju kepergian lain.

“Akhirnya, kita tidak lebih dari potongan rindu”, kata “rindu” di sini artinya menginginkan sesuatu, yaitu sebuah keinginan untuk bisa mewujudkan apa yang ada dalam ekspektasi kita. Semua dugaan-dugaan kita di awal sebenarnya hanyalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran kita tanpa kita tau apa jawabannya, karena kita belum mengalaminya. Satu pertanyaan tidak terjawab, akhirnya kita memunculkan sebuah pertanyaan lain yang hasilnya sama tanpa jawaban pasti, hingga muncul pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dan begitu seterusnya. Hal ini digambarkan dengan kalimat “Sisa-sisa tanya yang tak sempat bertemu kepastian. Keburu habis digerus tanya demi tanya”.

Pada akhirnya, kita hanya disibukkan dengan dugaan-dugaan tentang apa yang akan kita dapatkan nanti, apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya. Tanpa kita sadari ada “satu kepergian menuju kepergian lain” maksudnya, waktu kita yang berlalu pergi dengan cepat. Waktu kita habis hanya untuk memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, apa yang akan kita dapatkan, tanpa kita mamaknai apa saja yang baru saja kita lewati. Moment atau hal berharga yang kita miliki saat itu, telah kita acuhkan tanpa kita memaknai dan menikmatinya. Hingga pada saatnya titik B itu tiba dan berada jauh dari ekspektasi kita, kita baru menyadari bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu tanpa melakukan suatu hal berarti yang mungkin dapat mempengaruhi titik B ini agar ekspektasi kita terwujud.

Bait keempat, yaitu:

Hidup tak pernah rumit,
Yang rumit hanyalah rasa syukur.
Karena kita selalu mempertanyakannya.

Bait keempat ini adalah inti yang sebenarnya dari puisi ini. “Hidup itu tak pernah rumit”, ya hidup itu mudah, simple, tidak rumit, syaratnya apa? Bersyukur. Nikmati dan maknai apa yang kita miliki, hadapi, dan jalani saat ini. Cobalah untuk menerima setiap kegagalan, tiap kesalahan, tiap kekalahan, dan tiap kekurangan. Berdamailah dengan egomu masing-masing. Berusahalah untuk memaafkan. Jika kita pandai bersyukur maka hidup kita akan mudah, karena kita mampu untuk menerima tiap kekurangan pada hidup kita. Jalani hidup sebaik mungkin sesuai dengan prinsip, norma, dan peraturan yang ada. Yang terpeting bukanlah apa yang akan terjadi besok, itu hanya bisa kita duga-duga saja. Namun, yang penting adalah apa yang kita miliki saat ini *Auto nyalain D’masive – Jangan Menyerah Wkwk*. Bagaimana kita mensyukuri apa-apa yang ada dalam hidup kita saat ini sambil kita berusaha untuk mendapatkan hasil yang baik di masa depan.

Yang rumit itu adalah bagaimana caranya membuat diri kita sendiri bersyukur. Manusia adalah makhluk yang kompleks, terlebih manusia menolak untuk menjadi simple *Kata Bang Iid*. Manusia adalah makhluk yang penuh dengan pertanyaan, istilahnya ya “kepo”. Tetapi, yang perlu kita Bold, Italic, dan Underline adalah sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu “Apakah aku sudah bersyukur hari ini?”.

Secara keseluruhan puisi ini mengandung moral value, yaitu “Bersyukurlah maka hidupmu tak akan rumit”. Yang penting bukan apa yang kita inginkan, tetapi apa yang kita miliki saat ini. Karena apa? Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita ingikan dan yang kita miliki saat ini adalah sesuatu yang memang kita butuhkan menurut Tuhan. Berusahalah untuk menerima setiap keadaan. Walaupun itu terkadang menyakitkan buat kita, tapi di balik itu semua Tuhan punya rencana yang luar biasa. Aku jadi inget sebuah kata-kata yang aku baca di Instagram, yaitu “Butuh berapa kehilangan lagi, sampai kita mau untuk berterima kasih?”. So, syukurilah apa yang kita punya saat ini gaes.

Huweee..... Beneran WoW bangett kann maknanyaa (^_^). Kalo belum paham, silahkan baca lagi dari awal hehee pelan-pelan ajaaa. Ini murni hasil pemikiranku. Silahkan kalian bisa sharing kalo kalian punya pendapat lain okayy. Kayanya sampai sini dulu deh yaa. Hehee.. Terima kasih buat temen-temen yang mau mampir di kegabutanku ini. Bye Bye....

Wassalamu’allikum Wr.Wb.

No comments:

Post a Comment